Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Satu PDP di Ngadiluwih Meninggal, Pandemi Covid-19 (Corona)


INFOKEDIRILAGI.WEB.ID - Upaya pemerintah untuk menghambat penyebaran virus korona belum sepenuhnya berhasil. Imbauan agar tetap berada di rumah belum berjalan maksimal. Buktinya, dalam beberapa waktu terakhir jalanan di Kabupaten Kediri kembali ramai oleh warga yang beraktivitas. Padahal, pandemi masih belum selesai.

Sekretaris Gugus Tugas Percepatan Penanganan (GTPP) Covid-19 Kabupaten Kediri Slamet Turmudi menyebut pihaknya telah berupaya semaksimal mungkin. Mereka melakukan sosialisasi dan edukasi masyarakat terkait ancaman penularan virus ini. Termasuk ancaman jika berada pada kerumunan massa.

“Kami sudah pasang papan pengumuman imbauan untuk di rumah saja. Kami sebar di banyak tempat. Termasuk ketegasan melakukan physical distancing,” ujar Slamet.

Sayangnya, masih ada warga yang tak menghiraukan itu. Tetap beraktivitas dan tak menerapkan protokol kesehatan dalam menekan penyebaran Covid-19. Contohnya, banyak warga tak mengenakan masker ketika berada di luar rumah.

“Situasi seperti ini kesadaran masyarakat sangatlah penting. Harus peduli dan bersama-sama mengatasi penyebaran ini. Termasuk langkah edukasi yang terus dilakukan,” jelasnya.

Di Kabupaten Kediri, pandemi korona menjadi ancaman dalam satu bulan ini. Berbagai upaya dilakukan pemerintah untuk mencegah meluasnya penyebaran. Slamet menegaskan, aktivitas di luar rumah sangat perlu sebelum kondisi ini benar-benar kondusif. Jika mendesak keluar rumah, penggunaan masker menjadi hal yang wajib.

“Terkait masker, gugus tugas sudah dropping ke beberapa kecamatan. Hari ini (kemarin, Red) kami bagikan ke lima kecamatan di barat sungai,” ujarnya.

Dari pantauan, masih banyak warga yang belum menggunakan masker. Padahal pemerintah sudah memberikan ketegasan untuk semua yang beraktivitas di luar rumah harus menggunakan masker. Khususnya masker non-medis dari kain.

Terkait suasana jalan yang ramai, Turmudi mengaku telah melakukan berbagai upaya. Terutama di akhir pekan, ada beberapa ruas jalan yang ditutup. Termasuk ruas jalan di Kawasan SLG.

Penjagaan ketat juga dilakukan di beberapa pintu perbatasan. Di tempat itu didirikan pos penjagaan. Check point itu dijaga Satlantas Polres Kediri. “Itu untuk menyikapi pemudik yang bandel. Sudah ada beberapa check point yang bisa memaksa mereka dari luar daerah agar putar balik,” jelasnya.

Check point itu ada di perbatasan Kediri Jombang, di Kecamatan Badas, Simpang 3 Mengkreng di Kecamatan Purwoasri, dan di kawasan SLG.

Sejauh ini, di Kabupaten Kediri sudah 25 orang terkonfirmasi positif. Gugus Tugas juga telah melakukan upaya pelacakan untuk menemukan mereka yang juga terjangkit virus ini. Terbaru, dari hasil pelacakan dengan rapid test di Puskesmas Gampeng ada satu orang reaktif. Artinya, yang bersangkutan bisa saja merujuk ke Covid-19 dan untuk kepastiannya akan dilakukan swab tes.

Selain itu, ada PDP yang meninggal dunia. Pemakaman SF, 60, yang beralamat di Dusun Selatan, Desa Dukuh, Kecamatan Ngadiluwih pada Minggu (26/4) dilakukan dengan protokol Covid-19. Pemakaman yang berlangsung pukul 19.30 itu dilakukan oleh petugas dengan mengenakan alat pelindung diri (APD).

SF meninggal dunia saat menjalani perawatan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr Iskak Tulungagung. SF pulang dari Jakarta Agustus tahun lalu. Dia kemudian sakit dan dirawat di RS sejak Sabtu (18/4).

Kapolsek Ngadiluwih AKP Muklason menegaskan bahwa PDP tersebut belum positif terinfeksi Covid-19. Karena hasil tes belum keluar.

“Untuk hasil swab belum keluar. Jadi belum bisa dipastikan yang bersangkutan positif covid-19,” terang Muklason.

Meskipun demikian, keluarga SF sudah melakukan isolasi mandiri. Hal tersebut untuk mengantisipasi jika hasil swab terkonfirmasi positif.