Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

15 Kasus Korona dari Klaster Mustika dan Transmisi Lokal

15 Kasus Korona dari Klaster Mustika dan Transmisi Lokal

Infokedirilagi.web.id - Kota Kediri mendapatkan jumlah pasien positif korona terbanyak pada Senin (25/5). Jumlahnya mencapai 13 orang. Lonjakan itu masih ditambah kasus baru yang muncul kemarin (26/5). Meskipun tidak sebanyak lonjakan sehari sebelumnya, yaitu hanya dua orang pasien positif.

Tambahan 15 orang itu membuat jumlah pasien terkonfirmasi positif di Kota Tahu naik pesat. Menjadi 44 orang.

Penyumbang terbanyak adalah dari klaster pabrik rokok Mustika Tulungagung. Bahkan, boleh disebut bila semua sumber penularan dari klaster tersebut. Karena meskipun ada yang hasil dari transmisi lokal tetapi episentrum penularnya  juga karyawan pabrik rokok tersebut.

Khusus untuk data positif Senin (25/5) sengaja baru diumumkan kemarin siang. Pemkot berdalih punya strategi tersendiri terkait hal itu.

“Sengaja kami umumkan sekarang (kemarin siang, Red) karena ada beberapa strategi yang akan kami lakukan. Termasuk menjemput, tracing, dan lain-lain,” aku Wali Kota Abdullah Abu Bakar.

Tambahan 13 pasien itu berasal dari tiga kelurahan. Yaitu di Kelurahan Tempurejo dan Bawang, Kecamatan Pesantren, serta Kelurahan Pojok, Kecamatan Mojoroto. Semuanya merupakan orang tanpa gejala (OTG). Rata-rata berusia 50-60 tahun. Namun ada juga yang berusia 11, 15, dan 16 tahun.

Menurut Abu, kasus klaster pabrik rokok Mustika Tulungagung ini agak berbeda. Mereka menulari anggota keluarga lain. Termasuk yang masih anak-anak, di bawah 16 tahun, itu.

Sebagai langkah antisipasi, pemkot melakukan tracing pada kontak erat masing-masing pasien.  “Oleh karena itu kita harus berhati-hati dan saya menyarankan kepada bapak ibu untuk pahami protokol kesehatan dengan baik,” saran Abu.

Wali kota mengingatkan agar bila bepergian harus selalu menggunakan masker. Tapi itu bila untuk keperluan sangat mendesak dan penting. Bila tidak lebih baik tetap berada di rumah.

“Karena ini merupakan tambahan terbesar di Kota Kediri dan ini mudah-mudahan yang paling besar dan tidak ada lagi,” imbuhnya.

Saat ini pasien positif itu tersebut sudah dijemput petugas dari dinkes. Menurut juru bicara Gugus Tugas Percepatan (GTTP) Covid-19 Kota Kediri dr Fauzan Adima, mereka diisolasi di RSUD Kilisuci (Gambiran lama). “Sudah, sebagian ada di sana,” ujar Fauzan.

Untuk diketahui RSUD Kilisuci mulai menerima pasien pertama kali pada 22 Mei 2020. Pasien pertama adalah pindahan dari Puskemas Ngletih, Kecamatan Pesantren. Juga dari klaster pabrik rokok Mustika. Kini total terdapat 18 pasien OTG yang dirawat di rumah sakit khusus Covid-19 di Kota Kediri ini.

Sementara itu, tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan (GTPP) Covid-19 Kabupaten Kediri menegaskan bahwa isolasi mandiri di rumah menjadi langkah efektif untuk pasien OTG. Alasannya, karena akan berpengaruh pada tingkat kenyamanan pasien guna meningkatkan imunitas selama isolasi.

“Secara psikologis orang itu (yang sakit, Red) kalau tinggal di rumahnya sendiri akan merasa lebih nyaman,” kata Komandan Unit Reaksi Cepat (URC) BPBD Kabupaten Kediri Windoko.

Windoko menegaskan, pertimbangan lokasi isolasi ini juga melihat sejauh mana kondisi tempat tinggalnya. Pertimbangan itu bisa terkait ukuran rumah, berapa banyak yang tinggal di rumah, dan siapa saja yang ada di dalamnya. Jika isolasi di rumah itu layak dilakukan. Maka yang terbaik adalah di rumah.

“Tapi jika memang rumahnya tidak layak maka harus digeser,” ungkapnya. Pengecualian itu jika ukuran rumah tersebut kecil, dihuni banyak orang, dan ada balita. Bila kondisi  demikian maka isolasi bisa dilakukan di tempat lain.

Isolasi atau karantina memang menjadi perhatian khusus ketika ada seseorang yang terpapar Covid-19. Sejauh ini banyak langkah yang diambil terkait proses isolasi tersebut. Selain di rumah sakit, ada juga yang tempat khusus yang disiapkan untuk mengisolasi mereka yang diindikasi terpapar Covid-19. Seperti di gedung balai desa, atau di gedung sekolah.

Menurut Windoko, tempat yang paling nyaman memang ketika seseorang berada di rumah dan dekat dengan keluarga. Tentu saja dengan tetap mengikuti anjuran serta protokol kesehatan pencegahan penularan Covid-19. “Dengan merasa nyaman dan tidak timbul stress maka imun akan naik lebih cepat,” ungkapnya.

Windoko menegaskan, apabila seorang positif dan keluarganya diisolasi di tempat lain akan berpengaruh pada kenyamanan pasien. Selain itu, kenyamanan pasien yang diisolasi juga sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan. Jika dilakukan isolasi mandiri di rumah maka harus ada dukungan dari pemerintah desa setempat dan tetangga.

Hal senada sebelumnya juga dikatakan oleh Komandan tim Reaksi Cepat (TRC) Dinas Kesehatan Kabupaten Kediri dr Yaya Mulyana. Ia menyebut bahwa pihak desa dan masyarakat juga harus memberi dukungan psikologis pada pasien dan keluarganya. “Sehingga dengan seperti ini diharapkan pasien bisa segera sembuh,” pesannya.

Selama ini, ketika ada orang yang dinyatakan positif korona, tak sedikit dari mereka yang merasa dikucilkan. Dijauhi dan kurang adanya dukungan dari tetangga. Hal itulah yang menjadi poin penting bagi GTPP untuk memberikan pencerahan pada desa-desa yang saat ini terdapat kasus pasien positif Covid-19 agar tak membuat stigma bagi pasien positif.

Selama ini banyak warga yang menginginkan semua orang terpapar korona harus diisolasi di rumah sakit. Terkait hal tersebut, sebelumnya Direktur RSUD Kabupaten Kediri (RSKK) Pare dr Ibnu Gunawan menyampaikan bahwa kondisi orang tanpa gejala (OTG) yang ‘baik-baik’ saja dikhawatirkan akan menurun saat harus menjalani karantina di rumah sakit. Sebab, di rumah sakit pasien akan ditempatkan di ruang isolasi lengkap dengan peralatan serta komunikasi dan aktivitas sangat terbatas. “Dikhawatirkan kondisi OTG yang sangat tergantung dengan imunitas justru memburuk dan akhirnya jatuh sakit,” ungkapnya.

Dari sisi rumah sakit, jika setiap OTG datang dan harus diisolasi di rumah sakit maka yang terjadi adalah ketidakadilan dengan pasien-pasien dengan sakit lainnya. “Sebab, tenaga kesehatan dan paramedis akan fokus menangani Covid-19,” tambah dr Ibnu.

Ibnu menegaskan bahwa sudah saatnya sekarang dan seterusnya selama masa pandemi atau setelahnya, masyarakat bisa berpikir sehat. Menurutnya, tujuannya adalah satu, yakni supaya semua selamat. “Saat ini, marilah bersama-sama berjuang melawan Covid-19. Bekerja sama dengan baik. OTG akan lebih baik dan lebih sehat melewati masa sakitnya dengan isolasi mandiri di rumah,” jelasnya.

Mereka akan lebih baik berada bersama orang-orang terdekat dengan protokol yang sangat ketat.  Dengan tujuan agar semua orang tetap sehat.

Sumbernya dari Klaster Mustika Tulungagung

- 15 Orang dilaporkan positif korona selama dua hari terakhir.

- Rata-rata usia 50-60 tahun, tapi ada tiga usia anak-anak (di bawah 16 tahun).

- Pasien positif anak-anak hasil dari  transmisi lokal klaster Mustika Tulungagung kepada anggota keluarga.